SINARJATENG.COM – Meningkatnya jumlah kendaraan yang memadati jalur pengisian Pertalite di sejumlah SPBU Kabupaten Pemalang mulai menjadi perhatian dalam beberapa hari terakhir.
Sejak sore hingga malam, antrean kendaraan roda dua dan roda empat terus bertambah, sementara aktivitas di dispenser Pertamax terlihat tidak seramai biasanya.
Perubahan kondisi tersebut muncul setelah harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter. Selisih harga yang semakin lebar membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan kembali pilihan bahan bakar yang digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Di sejumlah SPBU, kendaraan terlihat lebih banyak mengarah ke jalur pengisian Pertalite. Tidak sedikit pengendara yang mengaku memilih bahan bakar tersebut untuk menekan pengeluaran di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Petugas pengisian BBM Pertamax 92, Nizar Arzaki, mengatakan kenaikan jumlah konsumen Pertalite mulai terlihat sejak harga Pertamax mengalami penyesuaian.
“Sejak sore sampai malam antrean Pertalite memang lebih panjang dari biasanya. Untuk Pertamax sendiri pembelinya mengalami penurunan,” ujar Nizar, Kamis (11/6/2026) malam.
Menurutnya, banyak konsumen kini lebih berhitung dalam mengatur pengeluaran. Selain mempertimbangkan perbedaan harga, sebagian pengendara juga memilih bertahan menggunakan Pertalite selama harganya masih dianggap lebih terjangkau.
Bagi masyarakat yang setiap hari mengandalkan kendaraan untuk bekerja, berdagang, maupun menjalankan aktivitas lainnya, biaya bahan bakar menjadi salah satu pengeluaran rutin yang cukup memengaruhi kondisi keuangan keluarga. Karena itu, kenaikan harga Pertamax langsung berdampak pada pola konsumsi BBM di lapangan.
Fenomena tersebut terlihat dari semakin padatnya antrean di jalur Pertalite, sementara dispenser Pertamax cenderung lebih lengang dibandingkan sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa kebijakan harga BBM dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan pilihan bahan bakar.
Sejumlah warga menilai penggunaan Pertalite saat ini menjadi alternatif untuk menjaga agar biaya transportasi tidak meningkat terlalu tajam. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi ekonomi yang mereka hadapi.
Antrean Pertalite yang terus memanjang di sejumlah SPBU Pemalang pada akhirnya bukan sekadar soal kendaraan yang menunggu giliran mengisi tangki.
Di balik antrean tersebut tersimpan kisah masyarakat yang berupaya menyesuaikan pengeluaran, menjaga aktivitas tetap berjalan, dan mencari cara agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi di tengah perubahan harga yang mereka rasakan secara langsung.***
(Slamet Febriansyah)









